Kotamobagu

UDK Intensif Galang Dana, PSL Tegas Tolak PETI dan Pembalakan Liar

259
×

UDK Intensif Galang Dana, PSL Tegas Tolak PETI dan Pembalakan Liar

Sebarkan artikel ini

Kotamobagu, ambangnews.com – Mahasiswa Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) terus menggalang dana untuk membantu korban bencana alam di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Aksi solidaritas kemanusiaan ini berlangsung hingga 19 Desember 2025 dan menunjukkan peningkatan signifikan, Jumat (12/12/2025), di Kotamobagu.

Hingga saat ini, total donasi yang berhasil dihimpun mencapai Rp10 juta 8 ribu. Selain bantuan uang tunai, UDK juga membuka posko donasi kebutuhan dasar berupa pakaian layak pakai, air mineral, ikan kaleng, hingga mi instan.

Seluruh bantuan tersebut dapat disalurkan langsung ke Sekretariat BEM UDK. Dalam pelaksanaannya, BEM UDK bekerja sama dengan Kodam untuk memastikan proses pengumpulan dan penyaluran logistik berjalan tertib dan tepat sasaran.

Mahasiswa UDK Saat Menggalang Dana

Gerakan kemanusiaan ini melibatkan seluruh elemen mahasiswa, mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himapro) hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UDK yang turun langsung mengoordinasikan aksi di lapangan.

Presiden Mahasiswa UDK, Laode Alian, memastikan bahwa penggalangan dana dilakukan secara transparan dan akuntabel. Ia juga mengajak masyarakat luas untuk turut berpartisipasi membantu para korban bencana.

Di tengah besarnya dukungan publik terhadap aksi sosial tersebut, isu lingkungan turut mendapat sorotan serius. Pusat Studi Lingkungan (PSL) UDK menyatakan sikap tegas menolak maraknya aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) yang terus berkembang di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR).

Ketua PSL UDK, Henratno Pasambuna, mengungkapkan bahwa hasil kajian lembaganya menemukan ratusan titik PETI yang tersebar dan aktif beroperasi di BMR.

“Pusat Studi Lingkungan UDK telah mengidentifikasi ratusan PETI atau pertambangan tanpa izin yang beroperasi di wilayah Bolaang Mongondow Raya,” ungkap Henratno.

Ketua PSL saat melakukan aksi orasi

Ia menegaskan, UDK menolak keras aktivitas pertambangan dalam bentuk apa pun yang melanggar aturan dan merusak lingkungan, termasuk praktik illegal loading.

“Apa pun bentuknya, hari ini UDK berdiri menolak seluruh aktivitas pertambangan ilegal di BMR,” tegasnya.

Henratno juga menyoroti berbagai bencana ekologis yang terjadi di Indonesia, yang menurutnya banyak dipicu oleh pembalakan liar dan lemahnya pengawasan pemerintah.

“Kayu yang menghanyutkan dan meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merupakan hasil pembalakan liar. Kerusakan itu terjadi karena tidak hadirnya pemerintah dalam pengawasan eksploitasi hutan,” jelasnya.

Ia memperingatkan, ancaman bencana serupa sangat mungkin terjadi di BMR apabila aktivitas PETI terus dibiarkan tanpa pengawasan dan penindakan. Karena itu, pemerintah daerah di BMR diminta sigap melakukan mitigasi bencana sejak dini sebagai langkah pencegahan.

Mahasiswa UDK berharap, aksi kemanusiaan yang mereka lakukan tidak hanya membantu para korban bencana, tetapi juga mampu membangun kesadaran publik untuk menjaga lingkungan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *